Waspada Ring of Fire, Pasukan Adat To Manurung Ingatkan Isyarat Alam dan Keagungan Gunung Api Bawah Laut Kawio Barat

MAKASSAR — Tokoh Lembaga Adat Pasukan Adat To Manurung, Ryan Latief La Kaseng, menyampaikan pesan moral dan spiritual yang mendalam kepada seluruh masyarakat di tanah air. Di tengah kondisi geologi Nusantara yang berdiri tegak di atas lintasan cincin api (Ring of Fire), ia mengimbau agar segenap anak bangsa senantiasa meningkatkan kewaspadaan, bertaubat, serta terus mempererat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Menurut Ryan Latief, dinamika alam dan ancaman bencana geologi yang mengintai merupakan isyarat penting dari tradisi leluhur sekaligus peringatan dari Allah SWT. Manusia diingatkan untuk menanggalkan kesombongan, memperbanyak mohon ampun, dan memohon perlindungan kepada Penguasa Jagat Raya. Salah satu bukti keagungan sekaligus potensi ancaman laten yang berada di bentangan perairan Indonesia adalah keberadaan raksasa gunung berapi bawah laut Kawio Barat di wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

banner 325x300

Ryan Latief menjelaskan bahwa Gunung Kawio Barat berdiri di kawasan busur vulkanik aktif Laut Sulawesi. Gunung ini memiliki struktur raksasa dengan ketinggian mencapai lebih dari 3.100 meter dari dasar laut—sebuah ukuran yang bahkan lebih tinggi dibanding mayoritas gunung di daratan Indonesia. Kendati sangat tinggi, puncaknya masih berada sekitar 1.900 meter di bawah permukaan laut. Keberadaan dan detail lokasinya terungkap secara luas melalui ekspedisi bersama Indonesia dan Amerika Serikat (INDEX-SATAL) pada tahun 2010 yang melibatkan Kapal Riset Okeanos Explorer dan Baruna Jaya IV. Di puncak serta lerengnya, terdapat fenomena hydrothermal vent (cerobong hidrotermal) aktif yang menyemburkan cairan mineral bersuhu sangat tinggi dan menopang ekosistem makhluk hidup ekstrem di dasar laut dalam.

Namun, di balik keajaiban geologinya, Gunung Kawio Barat menyimpan potensi bahaya yang sangat nyata. Berada di zona konvergensi lempeng tektonik yang amat aktif, dinamika magmatisnya memerlukan pemantauan geologi serta mitigasi berkala. Sama halnya dengan gunung api bawah laut Banua Wuhu, erupsi skala besar maupun longsoran lereng (flank collapse) pada struktur raksasa ini berpotensi memicu gelombang tsunami di kawasan perairan sekitarnya.

Menutup keterangannya, Ryan Latief La Kaseng menegaskan bahwa keberadaan raksasa-raksasa bawah laut ini menjadi cermin betapa rentannya ruang hidup manusia. Oleh karena itu, kerendahan hati, ikhtiar batiniah melalui taubat, serta kesiapsiagaan fisik dan edukasi mitigasi bencana harus senantiasa dijalankan secara seimbang demi keselamatan bersama.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *